Nganjuk – Semangat advokasi dan pemberdayaan perempuan muda menggema dari forum Sekolah Kader KOPRI (SKK) V yang diselenggarakan oleh KOPRI PC PMII Nganjuk, pada 1–3 November 2025. Kegiatan bertema “Advokasi Inklusif sebagai Pilar Kemandirian Kader KOPRI” ini menjadi ruang penguatan bagi kader perempuan agar semakin mandiri, kritis, dan berdaya di tengah tantangan zaman.
Kegiatan yang digelar selama tiga hari ini berlangsung hangat dan dinamis. Puluhan peserta yang berasal dari berbagai komisariat PMII se-Nganjuk mengikuti pelatihan, diskusi, serta simulasi advokasi sosial dengan semangat kolaboratif.
Ketua KOPRI PC PMII Nganjuk, Dyah Ayu, menyampaikan bahwa SKK bukan sekadar forum kaderisasi, tetapi bagian dari gerakan besar untuk membangun kesadaran dan keberanian perempuan dalam memperjuangkan keadilan sosial.
“Advokasi yang sejati adalah yang berpihak pada kemanusiaan. Kader KOPRI harus peka terhadap persoalan sosial dan berani menyuarakan keadilan bagi siapa pun, terutama bagi kelompok yang terpinggirkan,” ujar Dyah di sela kegiatan.
Ia menambahkan, kemandirian kader perempuan tidak lahir secara instan. Proses belajar panjang melalui forum seperti SKK menjadi sarana penting untuk membentuk mental tangguh, kesadaran kritis, dan kemampuan reflektif, “Perempuan tidak hanya pelengkap organisasi, tapi penentu arah gerakan,” tegasnya.
Tema Advokasi Inklusif yang diangkat KOPRI Nganjuk menjadi simbol gerakan baru, advokasi yang membuka ruang partisipasi semua elemen, tanpa membeda-bedakan latar belakang sosial, budaya, atau ekonomi.

Pendekatan inklusif ini dipandang sebagai strategi efektif menghadapi tantangan sosial yang semakin kompleks, terutama di ranah isu perempuan, digitalisasi, dan ketimpangan akses.
“Kami ingin kader KOPRI memahami bahwa advokasi tidak hanya bicara perempuan, tapi juga kemanusiaan. Keadilan gender adalah bagian dari keadilan sosial yang lebih luas,” lanjut Dyah.
Kegiatan SKK V juga menjadi refleksi perjalanan panjang gerakan perempuan muda di tubuh PMII. KOPRI Nganjuk dinilai berhasil mentransformasikan pola kaderisasi dari sekadar forum formal menjadi ruang pembelajaran yang hidup dan membumi.
Rangkaian kegiatan diisi dengan pelatihan advokasi kebijakan publik, analisis gender, diskusi kepemimpinan perempuan, serta simulasi kampanye sosial. Materi-materi tersebut diharapkan mampu memperluas wawasan kader dalam mengelola isu dan menggerakkan perubahan di masyarakat.
KOPRI Nganjuk menegaskan bahwa gerakan perempuan hari ini bukan sekadar perjuangan simbolik, melainkan komitmen nyata dalam menghadirkan perubahan sosial. Melalui pendekatan advokasi inklusif, KOPRI berharap para kader mampu mengambil peran aktif di ranah publik baik dalam masyarakat, lembaga sosial, maupun pemerintahan desa.
“Kami ingin perempuan KOPRI berani tampil, berpikir kritis, dan membawa nilai keadilan ke ruang-ruang pengambilan keputusan,” tutup Dyah.
Dengan napas advokasi yang inklusif, KOPRI Nganjuk berkomitmen terus melahirkan kader perempuan yang tangguh, adaptif, dan berpihak pada kemanusiaan — menjadikan kemandirian sebagai pilar utama gerakan perempuan muda masa kini. (RBU/Red).







