SOROTI KELANGKAAN DAGING SAPI, ANGGUN SOFIA ARDILA: PMII BOJONEGORO DORONG SOLUSI NYATA

judul gambar

Bojonegoro – PC PMII Bojonegoro menyoroti kelangkaan sapi siap potong dan meningkatnya harga daging sapi di Kabupaten Bojonegoro yang mulai berdampak pada jagal, pedagang, hingga pelaku UMKM kuliner.

Sejak 20 Agustus 2026, Paguyuban Jagal Sapi Bojonegoro menghentikan aktivitas penjualan akibat sulitnya memperoleh sapi siap potong. Kondisi ini berpotensi mengganggu usaha yang bergantung pada daging sapi, seperti pedagang bakso, sate, warung makan, dan UMKM lainnya.

Bacaan Lainnya
judul gambar

Mandataris Ketua Umum PC PMII Bojonegoro, Anggun Sofia Ardila, mengapresiasi respons Pemerintah Kabupaten Bojonegoro yang telah melakukan koordinasi dengan para pihak. Namun, menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan solusi yang konkret dan segera.

“Kami mengapresiasi respons Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Tetapi masyarakat membutuhkan solusi nyata, terutama untuk memastikan ketersediaan sapi siap potong dan menjaga rantai pasok daging agar tidak semakin terganggu,” ujar Anggun.

Ia menegaskan bahwa PMII tidak ingin persoalan ini menjadi ruang untuk saling menyalahkan. PMII justru mendorong pemerintah dan seluruh stakeholder untuk bersama-sama mencari jalan keluar sebelum dampaknya semakin luas.

“Kami tidak berdiri untuk menyalahkan pemerintah. Kami berdiri bersama rakyat. Jangan sampai kelangkaan sapi hari ini berkembang menjadi berhentinya usaha dan menurunnya pendapatan masyarakat. Jangan tunggu efek dominonya meluas baru kita bertindak,” tegasnya.

PC PMII Bojonegoro secara khusus mendorong Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro untuk segera melakukan pemetaan ketersediaan sapi siap potong, distribusi sapi keluar daerah, kebutuhan daging masyarakat, serta hambatan dalam rantai pasok.

PMII juga mendorong langkah jangka pendek untuk menjaga ketersediaan daging, sekaligus strategi jangka panjang untuk memperkuat populasi dan tata niaga sapi di Bojonegoro.

PC PMII Bojonegoro siap mengawal persoalan ini dan membuka ruang dialog bersama pemerintah, peternak, jagal, pedaganh, supplier, serta pelaku UMKM agar solusi yang diambil benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Pos terkait

judul gambar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *