Tak Sekadar Skripsi, Mahasiswa RPL Kampus Ungu Bojonegoro Ciptakan Prototype Layanan Digital

judul gambar

BOJONEGORO – Mahasiswa Program Studi Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), Fakultas Sains dan Teknologi, Institut Sains dan Teknologi Insan Cendekia Husada Bojonegoro atau yang dikenal sebagai Kampus Ungu, mulai mengarahkan karya skripsinya pada pengembangan produk digital yang dapat menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

Sejumlah mahasiswa berhasil menghasilkan prototype layanan berbasis teknologi, mulai dari layanan barbershop online, layanan terapis online, sistem toko grosir digital, hingga sistem manajemen pengelolaan ruang kelas.

Bacaan Lainnya
judul gambar

Prototype tersebut dirancang bukan hanya untuk memenuhi tuntutan akademik, tetapi sebagai langkah awal pengembangan produk atau layanan inovatif yang mampu menyelesaikan persoalan masyarakat dan berpotensi berkembang secara cepat melalui pemanfaatan teknologi.

Dekan Fakultas Sains dan Teknologi, K.R.A.T. Cipnal Muchlip M, S.E., M.M., saat diwawancarai Minggu (9/8/2026), mengatakan mahasiswa perlu didorong untuk tidak berhenti pada kemampuan membuat aplikasi, tetapi juga mampu mengidentifikasi persoalan dan menghadirkan solusi yang dapat diterapkan.

“Mahasiswa diharapkan menjadi problem solver, sehingga hasil akademiknya dapat ditindaklanjuti menjadi solusi kekinian untuk masyarakat, serta berpotensi menjadi komoditas ekonomi besar apabila dikembangkan lebih lanjut,” katanya.

Menurutnya, pola pengembangan tugas akhir seperti ini menjadi penting karena perkembangan teknologi membutuhkan sumber daya manusia yang bukan hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menciptakan produk baru berdasarkan kebutuhan masyarakat.

Salah satu karya mahasiswa adalah prototype layanan barbershop online. Sistem tersebut dirancang untuk memberikan kemudahan kepada pelanggan dalam memperoleh informasi layanan, melakukan pemesanan, hingga menentukan waktu pelayanan tanpa harus menunggu antrean terlalu lama.

Bagi pemilik usaha, teknologi tersebut juga dapat dikembangkan untuk membantu pengelolaan pelanggan, jadwal pelayanan, transaksi, hingga pencatatan aktivitas bisnis.

Mahasiswa lainnya mengembangkan layanan terapis online yang dapat menjadi penghubung antara masyarakat dengan penyedia layanan terapi. Sistem tersebut dirancang agar masyarakat dapat memperoleh informasi layanan dan menentukan kebutuhan terapi secara lebih mudah melalui platform digital.

Tidak hanya sektor jasa, mahasiswa RPL Kampus Ungu juga menyentuh sektor perdagangan dengan menciptakan sistem toko grosir digital.

Prototype tersebut dapat digunakan untuk membantu pengelolaan stok barang, transaksi, data pelanggan, hingga aktivitas administrasi usaha yang selama ini masih banyak dilakukan secara manual.

Sementara itu, untuk menjawab kebutuhan pengelolaan fasilitas pendidikan, mahasiswa juga mengembangkan sistem manajemen ruang kelas. Sistem tersebut dirancang untuk mempermudah pengaturan jadwal penggunaan ruangan, mengetahui ketersediaan kelas, serta membantu mencegah terjadinya benturan pemakaian ruangan.

Berpeluang Menjadi Startup Baru

Cipnal Muchlip yang juga dikenal sebagai pegiat budaya menilai karya-karya tersebut tidak seharusnya berhenti ketika mahasiswa telah menyelesaikan skripsinya.

Menurut dia, sejumlah prototype yang dikembangkan mempunyai peluang cukup besar untuk direalisasikan menjadi usaha rintisan atau startup digital apabila dilanjutkan dengan pengembangan produk, pengujian pasar, penyempurnaan teknologi, dan model bisnis yang tepat.

“Hasil karya mahasiswa ini berpotensi tinggi untuk direalisasikan menjadi startup baru yang siap bersaing karena masing-masing memiliki ciri khas sesuai kebutuhan masyarakat,” ujarnya, Minggu (9/8/2026).

Setiap produk, lanjut dia, lahir dari persoalan yang berbeda. Karena itu, peluang pengembangannya juga terbuka pada segmen pengguna yang berbeda.

Layanan barbershop online, misalnya, dapat dikembangkan dari sistem yang digunakan satu usaha menjadi sebuah platform yang menghubungkan banyak barbershop dengan pelanggan.

Demikian pula layanan terapis online yang dapat dikembangkan menjadi platform penyedia jasa berbasis lokasi maupun kebutuhan pengguna.

Sistem toko grosir berpeluang dikembangkan menjadi layanan digital bagi pelaku usaha perdagangan, sedangkan sistem manajemen ruang kelas dapat diperluas penggunaannya untuk sekolah, perguruan tinggi, lembaga pendidikan, hingga institusi yang memiliki banyak fasilitas ruangan.

“Bukan sekadar skripsi, namun kampus mendorong lahirnya inovator baru serta berorientasi pada produk solutif dan bernilai ekonomi tinggi,” imbuhnya.

Mahasiswa Didorong Menjadi Pencipta Teknologi

Pengembangan prototype dalam tugas akhir juga menjadi bagian dari upaya mendorong mahasiswa RPL agar memiliki pola pikir sebagai pencipta teknologi.

Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami bahasa pemrograman, basis data, desain antarmuka, maupun pengujian perangkat lunak. Mereka juga harus mampu membaca kebutuhan pengguna dan menerjemahkannya menjadi sistem yang dapat digunakan.

Dengan pendekatan tersebut, tugas akhir menjadi proses yang menghubungkan antara kemampuan akademik, keterampilan teknologi, dan kebutuhan nyata di lapangan.

Sebuah persoalan sederhana di lingkungan masyarakat dapat menjadi titik awal munculnya inovasi.

Antrean pada tempat potong rambut dapat berkembang menjadi sistem reservasi digital. Kesulitan masyarakat menemukan penyedia terapi dapat melahirkan platform layanan terapis. Pengelolaan toko yang belum tertata dapat ditransformasikan menjadi sistem grosir digital, sementara persoalan penggunaan ruang kelas dapat dijawab dengan sistem manajemen fasilitas yang lebih efisien.

Orientasi tersebut sekaligus membuka kemungkinan hasil penelitian mahasiswa untuk dilanjutkan melalui pengembangan minimum viable product (MVP), pengujian kepada pengguna, perlindungan kekayaan intelektual, inkubasi bisnis, hingga kerja sama dengan dunia usaha dan industri.

Harapannya, produk yang lahir dari lingkungan akademik tidak hanya menjadi dokumentasi kelulusan, tetapi memiliki keberlanjutan dan dampak nyata bagi masyarakat.

Melalui karya mahasiswa RPL tersebut, Fakultas Sains dan Teknologi Kampus Ungu Bojonegoro ingin membangun tradisi bahwa perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat mempelajari perkembangan teknologi, tetapi juga ruang untuk melahirkan inovator dan produk teknologi baru.

Dari proses akademik itulah diharapkan muncul karya yang dapat berkembang dari skripsi menjadi prototype, dari prototype menjadi produk, dan dari produk menjadi layanan yang memiliki nilai sosial sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat.

Pos terkait

judul gambar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *