Pangkas Biaya Produksi, Petani Hutan Sekar Kompak Racik Fungisida Mandiri

judul gambar

Bojonegoro – Ketergantungan petani hutan di wilayah selatan Bojonegoro terhadap obat-obatan kimia pabrikan perlahan mulai dikikis. Pemicunya, lonjakan harga pestisida di pasaran belakangan ini kerap mencekik dompet dan membengkakkan modal tanam mereka.

Bergerak taktis, para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Wono Sekar Makmur 2, Kecamatan Sekar, kini memilih putar haluan. Mereka bersiap mengelola perlindungan tanaman secara swadaya lewat racikan fungisida semi nabati.

Bacaan Lainnya
judul gambar

Langkah penguatan kapasitas ini dikemas apik dalam Program Penghijauan 2026 yang diinisiasi oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas, dengan menggandeng IDFoS Indonesia sebagai mitra pelaksana.

Pelatihan digelar langsung di kediaman salah satu anggota kelompok tani di Kecamatan Sekar, Jumat (31/7/26).

Anggota KTH Wono Sekar Makmur 2 Nuril mengaku bersyukur dengan adanya bekal ilmu baru tersebut. Sebab, selama ini petani lokal terbiasa membeli obat-obatan kimia tanpa memahami formula bahan aktif di dalamnya.

Imbasnya, alih-alih membasmi organisme pengganggu tanaman, penggunaan obat kimia yang serampangan justru kerap membuat hama menjadi kebal atau resisten.

“Pelatihan ini sangat membantu kami mengurangi biaya operasional. Sekarang jadi lebih paham cara mengendalikan hama dengan tepat, tidak asal beli obat pabrik lagi,” beber Nuril.

Di wilayah dataran tinggi Sekar, komoditas utama lahan warga didominasi oleh tanaman jagung, bawang merah, dan cabai.

Pengalihan metode perlindungan tanaman ke arah semi organik dengan memanfaatkan belerang (sulfur) dan Kalium Hidroksida (KOH) dinilai menjadi kunci utama untuk menekan modal tanam sekaligus menjaga kesuburan tanah.

Perwakilan EMCL Ali Mahmud menegaskan, keterlibatan industri hulu migas dalam program ini merupakan wujud nyata dukungan terhadap prioritas pembangunan Pemkab Bojonegoro. Khususnya di sektor ekologi dan penguatan ekonomi akar rumput.

“Kami berkomitmen untuk terus berjalan beriringan dengan Pemkab dalam menjaga kelestarian lingkungan serta mendongkrak kesejahteraan para petani hutan,” tutur Ali.

Melalui peningkatan keahlian ini, ia berharap KTH mampu mandiri secara ekonomi, memiliki ketahanan pangan yang kuat, sekaligus menjaga lahan pertanian tetap subur dan produktif jangka panjang.

Sementara itu, Manager Program IDFoS Indonesia Laily Mubarokah mengamini pentingnya pemutusan rantai ketergantungan kimia di tingkat tapak. Pemulihan lahan di kawasan hutan diakuinya tidak bisa berjalan instan.

“Petani perlahan kita ajak beralih ke pengelolaan semi organik agar lingkungan tetap produktif. Keterampilan baru ini harus ditularkan secara gotong royong antar-anggota,” urai Laily.

Dalam sesi praktik lapangan, Hilal selaku praktisi pertanian sekaligus pemateri mengingatkan bahwa kunci keberhasilan tani mandiri bertumpu pada ketelatenan.

Penggunaan bahan aktif harus jeli melihat kondisi lingkungan sekitar, termasuk kecukupan pasokan air di lahan pertanian.

“Kuncinya ada pada pengamatan rutin yang memenuhi prinsip tepat waktu, tepat sasaran, dan tepat dosis,” pungkas Hilal. (RBU/Red).

Pos terkait

judul gambar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *