Pemuda Bojonegoro Jadikan Affiliate Sebagai Salah Satu Tren Penambah Isi Dompet

judul gambar

BOJONEGORO— Aktifitas affiliate marketing kian diminati kalangan pemuda di Kabupaten Bojonegoro. Melalui platform digital seperti TikTok dan Shopee, para pemuda memanfaatkan sistem afiliasi untuk mempromosikan produk, mereka menempelkan tautan untuk memperoleh komisi dari setiap penjualan yang jadi transaksi.

Dalam praktiknya, affiliate dijalankan dengan cara membuat konten sederhana, mulai dari ulasan singkat, rekomendasi penggunaan, hingga pengalaman pribadi. Konten tersebut kemudian diunggah dan disertai tautan produk. Jika ada pembelian, affiliator akan memperoleh komisi sesuai ketentuan platform.

Bacaan Lainnya
judul gambar

Salah satu pemuda Bojonegoro, Imam, menilai affiliate menjadi pilihan yang masuk akal bagi anak muda di era digital ini. Menurutnya, aktivitas ini tidak membutuhkan modal besar dan bisa dikerjakan dari rumah.

“Sekarang ini ada salah satu cara menambah isi dompet dengan menjadi Affiliate. Kita hanya cukup pakai Handphone saja. Terus buat konten, pasang link, dan tunggu hasilnya,” ujar Imam saat mediapantura.com konfirmasi (9/1/2025).

Ia mengatakan, daya tarik Affiliate terletak pada fleksibilitas waktu dan kemudahan akses. Aktivitas ini bisa dilakukan sambil bekerja atau kuliah.

“Sebenernya, Affiliate ini bukan buat dijadikan sebagai penghasilan utama, tapi lumayan lah buat nambah-nambah. Daripada kita scroll Media Sosial doang dan enggak dapat apa-apa, ini bisa jadi satu cara untuk sedikit mebgalihkan aktivitas scroll jadi kegiatan yang produktif dan menghasilkan,”kata Imam.

Meski terlihat mudah, Imam menyebut affiliate tetap membutuhkan konsistensi dan pemahaman pasar. Tidak semua konten langsung menghasilkan penjualan.

“Tapi kebanyakan produk yang berhasil menarik banyak orang buat mampir di link kita itu kalau setidaknya sudah ada 2 bulan upload rutin setiap hari, baru ada hasil. Jadi memang harus sabar,” ungkapnya.

Selain itu, kepercayaan audiens menjadi faktor penting. Imam menilai affiliator perlu selektif dalam memilih produk agar tidak merugikan konsumen.

“Kalau asal promosi, orang bisa kapok. Lebih baik pilih barang yang memang layak,” Pungkas pemuda yang juga menjadi penjaga warung kopi itu.

Tren affiliate di Bojonegoro mencerminkan berkembangnya ekonomi digital di daerah. Bagi pemuda, affiliate menjadi salah satu cara untuk tetap produktif dan menambah penghasilan di tengah keterbatasan lapangan kerja. Dengan semakin luasnya penggunaan media sosial, aktivitas afiliasi diperkirakan masih akan terus berkembang di kalangan generasi muda. (srk/red)

judul gambar

Pos terkait

judul gambar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *