Hadir dalam Jagong Kesenian, Sandur Pakeliran Siapkan Lakon Ikonik Bojonegoro

judul gambar

Bojonegoro – Bale Parawangsa kembali menawarkan konsep pertunjukkan inovasi yang berakar pada budaya lokal khas Bojonegoro. Adalah Sandur Pakeliran hasil modifikasi dari teater tradisional Sandur Bojonegoro yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di tingkat Nasional.

“Faktanya di Bojonegoro memang sangat banyak yang belum tahu tentang sandur, dari situlah kemudian kami mencoba mereka budaya menjadi bentuk yang lebih ramah. Tujuannya ya agar lestari dan dikenal oleh masyarakat Bojonegoro,” terang Agus Sighro, salah satu yang menjadi pereka Sandur Pakeliran.

Bacaan Lainnya
judul gambar

Pengenalan Sandur Pakeliran kembali dilakukan saat kegiatan Jagong Kesenian di Bale Parawangsa pada Minggu (02/04/2023) kemarin. Tak memainkan cerita lakon, Sandur Pakeliran dimainkan dalam bentuk Talk Show. Dimana karakter sandur melakukan dialog satu sama lain dan melemparkan pertanyaan kepada audiens yang akhirnya tercipta suasana interaktif.

Dalam Sandur Pakeliran, seluruh konten yang diterapkan masih mempertahankan pakem aslinya. Hanya beberapa unsur yang dimodifikasi, terutama dari unsur pemain dan perangkat yang digunakan. Bila dalam Sandur Bojonegoro harus dimainkan oleh 40 orang misalnya, Sandur Pakeliran menggantikannya dalam wujud boneka wayang dan keterlibatan penonton.

“Untuk anak wayang, kita representasikan dalam bentuk boneka wayang. Sementara untuk panjak ore yang berjumlah dua puluhan orang, kita representasikan dengan keterlibatan penonton,” tambah pria yang selama ini menjadi germo dalam Sandur Pakeliran.

Kehadiran bentuk Sandur dalam konsep Pakeliran ini sudah pernah dimainkan di beberapa kota, diantaranya Nganjuk dan Malang. Bahkan salah satu perguruan tinggi telah menunjukkan apresiasinya dengan rencana untuk melakukan kajian akademis terhadap rekayasa budaya yang dilakukan oleh Bale Parawangsa tersebut.

“Tujuan utamanya ya agar membumikan sandur. Karena salah satu kendala untuk memainkan sandur adalah mahalnya biaya pentas dan jumlah personil yang harus terlibat,” terang Ramon Pareno, yang juga turut menjadi pencipta Sandur Pakeliran.

Meski demikian, pihaknya menyadari bahwa langkah inovatif yang dilakukan bakal berjalan lambat untuk dapat diterima. Namun dirinya yakin bahwa niatan baik yang mendasari reka Sandur ke bentuk Pakeliran akan menyelamatkan kesenian khas Bojonegoro tersebut.

Hingga kini, lakon yang dimainkan masih seputar edukasi untuk generasi muda. “Dalam waktu dekat kami akan siapkan lakon-lakon lain yang berlatar sejarah Bojonegoro. Misalnya fragmen-fragmen Sosrodilogo, Ki Andongsari, hingga Sunan Kalijaga,” tambahnya. (pur/red)

Pos terkait

judul gambar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *