Mediapantura.com, Surakarta – Cerita sejarah dibalik berdirinya tugu lilin di kawasan Penumping Sriwedari pada tanggal 23 September 1928 adalah “Hajad Dalem” Sinuhun Paku Buwono X Karaton Surakarta Hadiningrat yang mengundang segenap para pembesar kerajaan – kerajaan di seluruh Nusantara.
Untuk bergabung dan berikrar bersama dalam satu ikatan kebangsaan yakni ” Bangsa Nusantara ” untuk bersama sama menyusun kekuatan mengusir penjajahan dan berjuang keras mendapatkan pengakuan luar negeri sebagai “Kerajaan Nusantara” yang berdaulat.
Undangan terkirim kepada para raja raja kerajaan Nusantara berproses selama 6 bulan lamanya karena jauhnya jarak yang ditempuh rombongan para raja dan ketua adat kerajaan-kerajaan seluruh nusantara dari berbagai pulau dengan menaiki kapal dan berlayar dan selama itu pulalah S.I.S.K.S Paku Buwana X bersama punggawa dan rakyat bergotong royong bahu membahu mempersiapkan pondokan penginapan dan sajian makanan untuk jamuan dengan biaya sediri dari Kerajaan Mataram Surakarta Hadiningrat.
Setelah semua tamu undangan berkumpul maka Sinuhun Paku Buwono X bersabda bahwa hanya dengan persatuan diantara semua kerajaan dan ketua ketua adat seluruh Nusantara maka bangsa ini akan terbebas dari penjajahan kerajaan asing,
maka semua para raja para pangeran para tetua adat tetua suku dan para punggawa, bersumpah setia mengakui sebagai:
satu bangsa yakni ” Bangsa Nusantara ” dan
satu kerajaan yakni ” Kerajaan Nusantara ” dan dipilihlah bahasa melayu dan huruf alphabet sebagai bahasa persatuan, dengan pertimbangan bahwa bahasa Melayu lebih ringkas dan mudah dipelajari
Sumpah setia tersebut oleh Susuhunan Paku Buwono X dinamakan ” Sumpah Kerajaan Nusantara ” di iringi dengan upacara yang sangat sakral, para pembesar dan para utusan dari berbagai kerajaan tersebut semuanya membawa tanah dan air dari kerajaannya masing-masing dan dimasukkan bersama – sama dalam satu lubang beserta semua para pembesar kerajaan tersebut mengiris jarinya sampai berdarah dan kemudian meneteskan darah darah mereka di atas tanah dan air yang disatukan dan dikumpulkan dalam satu lubang tersebut, sehingga genaplah menjadi satu, dan berikar bersama ” Tumpah darahku tanah airku Nusantara ”
Dan dimateraikanlah sumpah tersebut disaksikan oleh semua raja raja, tetua tetua adat beserta rombongannya dengan mengacungkan pusaka dari masing masing kerajaan, lubang tempat dikumpulkan tanah, air dan tetesan darah tersebut ditutup kembali dengan tanah dan ditanam batu diatasnya sebagai tanda bahwa ditempat tersebut telah selesai dilaksanakan sumpah kerajaan dan ikrar persatuan, sebelum dibangun tugu peringatan dua tahun kemudian.
Upacara sakral di luar istana berlangsung lancar karena pada saat sebelum acara diadakan Susuhunan Paku Buwana X mengirim utusan untuk melaporkan akan diadakan kegiatan berkumpul pada tanggal 23 September 1928 bahwa “Sinuhun Paku Buwana X mengundang para raja dari seluruh kerajaan di Nusantara untuk berekonsiliasi mengajak seluruh kerajaan Nusantara bergabung mengumpulkan hasil hasil pertanian dan perkebunan serta palawija untuk mencukupi kebutuhkan pasokan rempah rempah perdagangan utama VOC yang sudah berkolaborasi dengan Pemerintah Belanda.” Alasan politis tersebut demi menjaga keamanan dan keselamatan para tamu tamu undangan kerajaan.
Dengan alasan tersebut maka perhelatan Hajad Dalem “Sumpah Nusantara” tersebut terbebas dari pengawasan dan prosesi acara berlangsung lancar tanpa kecurigaan kompeni Belanda, karena jika mereka sudah mencurigai atau mengetahui bahwa perhelatan tersebut adalah sumpah persatuan untuk mengusir penjajah maka Kompeni Belanda tidak segan segan menembak mati pada siapa saja yang dianggap memberontak.
Pada tahun 1930 kemudian Sinuhun Paku Buwana X memerintahkan para punggawanya untuk membangun tugu lilin sebagai “Damar” atau simbol penerang agar bangsa Nusantara segera terbebas dari penjajahan terbebas dari kegelapan, proses pembangunan tugu tersebut berlangsung selama satu tahun termasuk pemilihan arsitek perancangnya, pemilihan gambar dan pembangunan fisiknya keseluruhannya diselesaikan tahun 1931
Dan tidak hanya itu untuk perjuangan politiknya Sinuhun Paku Buwana X juga menyekolahkan para pangeran pangeran cerdas termasuk juga Soekarno ( Bung Karno ) yang dipilih beliau untuk bisa sekolah sampai sarjana bahkan sampai ke luar negeri, sebab pada waktu itu Belanda memberi batasan bahwa yang dibolehkan sekolah sampai sarjana hanya keluarga raja dua grade saja anak dan cucu raja, untuk grade buyut dan apalagi rakyat biasa dilarang sekolah tinggi.
Wasiat Sinuhun Paku Buwana X kepada Bung Karno kelak jika perjuangan ini berhasil maka namakan negeri ini ” Kerajaan Nusantara ” sebab berdasarkan sumpah yang sudah di ikrarkan oleh segenap raja raja seluruh Nusantara, dan bersama itu Sinuhun Paku Buwana X memberikan tongkat komando berkepala Garuda dan meminta Bung Karno meneruskan perjuangan dan tetap merahasiakan bahwa Kerajaan Mataram Surakarta Hadiningrat lah yang membiayai dan memprakarsai perjuangan kemerdekaan demi menjaga keselamatan keluarga kerajaan, agar kerajaan tetap bisa berdiri dan tetap bisa membiayai perjuangan dari hasil berdangang palawija sebab tidak ada perjuangan yang berhasil tanpa dukungan biaya yang besar. Itulah wasiat Sinuhun Paku Buwana X sebelum wafat kepada Bung Karno.
Pada tahun 1945 pada rapat BPUPKI persiapan kemerdekaan, Sutan Syahrir menolak nama Kerajaan Nusantara maka marahlah Gusti Pangeran Haryo Soeryo Hamidjoyo, sebab itu tidak sesuai wasiat Sinuhun Paku Buwana X kepada Bung Karno,
Namun keputusan rapat tersebut suara terbesar memilih nama baru “Indonesia” sehingga ” Sumpah Nusantara” di lakukan Penyesuaian dengan nama ” Sumpah Pemuda ” maka kata Nusantara diganti dengan kata Indonesia dan diceritakanlah sumpah pemuda tersebut ada sebuah kongres pemuda di Jakarta di tempat kos para pelajar, walau semua tahu jangankan kongres berkumpul saja sudah langsung didatengi tentara kompeni,
Pada tahun 1928 tidak ada tanah yang tidak bertuan, semua tanah adalah milik kerajaan dan saat negara Indonesia baru dibentuk tahun 1945 tidak memiliki tanah sejengkal pun, semua adalah pinjaman dari kerajaan kerajaan Nusantara yang tergabung dalam sumpah Nusantara, pada tahun 1928 kata dan nama Indonesia belum ada maka jika ada cerita kongres pemuda yang bersumpah atas nama Indonesia pada tahun 1928 perlu dikaji ulang dan sejarah perlu diluruskan.
tapi itu semua sudah menjadi catatan sejarah yang dipilih oleh pemerintah Republik Indonesia ada yang dibuat ada juga yang sengaja disembunyikan.(Anik/Den/Red)






