KOPRI PMII Bojonegoro Bekali Anak Edukasi Cegah Kekerasan Seksual Lewat Workshop Kreatif

judul gambar

Bojonegoro – Korps PMII Putri (KOPRI) PC PMII Bojonegoro menggelar edukasi pencegahan kekerasan seksual bagi anak di Sanggar Dunia Imajinasi Bojonegoro, Minggu (19/7/2026). Kegiatan yang dipadukan dengan Fresh Flower Workshop tersebut menjadi upaya membekali anak-anak dengan pengetahuan perlindungan diri di tengah meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Bojonegoro.

Puluhan anak mengikuti kegiatan yang dikemas dalam suasana aman dan menyenangkan. Selain menerima materi mengenai perlindungan diri, peserta juga diajak mengikuti kelas merangkai bunga sebagai sarana mengembangkan kreativitas, melatih kesabaran, serta meningkatkan kemampuan motorik halus.

Bacaan Lainnya
judul gambar

Ketua KOPRI PC PMII Bojonegoro Ana Aynun Nazya mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap tren peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Bojonegoro. Menurutnya, upaya pencegahan harus dilakukan sejak dini melalui edukasi yang melibatkan anak maupun keluarga.

“Bagi kami, mencegah jauh lebih baik daripada menyesal setelah anak menjadi korban. Menjaga anak-anak hari ini adalah investasi mutlak untuk masa depan Bojonegoro,” ujar Ana Aynun Nazya.

Data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Bojonegoro mencatat kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sepanjang 2025 mencapai 49 kasus. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 38 kasus pada 2024 dan 33 kasus pada 2023.

Sementara itu, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Bojonegoro mencatat terdapat 23 kasus pencabulan terhadap anak selama 2025. Mayoritas korban berada pada rentang usia remaja 14 hingga 17 tahun. Kondisi tersebut juga disebut berkaitan dengan sejumlah persoalan sosial, seperti kemiskinan, tingginya angka Anak Tidak Sekolah (ATS), hingga dispensasi kawin.

Dalam sesi edukasi, anak-anak dikenalkan pada konsep batasan tubuh, cara membedakan sentuhan yang aman dan tidak aman, serta didorong untuk berani mengatakan “tidak” apabila mengalami situasi yang membuat mereka tidak nyaman. Peserta juga menerima Buku Saku Pencegahan Kekerasan Seksual yang diharapkan dapat dipelajari bersama orang tua di rumah.

Ana menjelaskan, kegiatan kreatif berupa Fresh Flower Workshop sengaja dipadukan dengan materi edukasi agar anak-anak tetap merasa nyaman selama proses belajar. Menurutnya, menyediakan ruang berekspresi yang aman merupakan bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak sekaligus memperkuat rasa percaya diri mereka.

Dari hasil diskusi selama kegiatan berlangsung, fasilitator menemukan bahwa sebagian besar anak sebenarnya telah mengetahui adanya bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain. Namun, mereka belum memahami bahwa pemaksaan sentuhan pada bagian tubuh tersebut merupakan bentuk kekerasan seksual.

“Hal ini menunjukkan literasi perlindungan diri sejak dini masih sangat mendesak. Kami mengajak seluruh elemen, mulai dari pemerintah daerah hingga lingkungan keluarga, untuk bahu-membahu menciptakan ruang ramah anak yang bebas dari rasa takut,” pungkas Aynun. (RBU/Red)

Pos terkait

judul gambar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *