Reporter: Ahmad Fauzi
Bojonegoro, mediapantura.com – Biji yang tumbuh menjadi tunas sebagai cikal bakal pohon disebut kecambah. Sayuran ini dikenal dengan nama lain seperti utik-utik dan tauge.
Kecambah yang digunakan sebagai sayuran umumnya berasal dari biji kacang hijau, kedelai dan kacang merah. Selain sebagai bahan baku sayuran, kecambah juga menjadi bahan pelengkap makanan lain seperti lunpia, gado-gado, rawon dan soto.
Proses pembuatan kecambah tidak rumit namun memerlukan ketelatenan. Sutani salah seorang petani sekaligus pemilik usaha kecambah asal Dusun Sidodadi, Desa Talok Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro
Sutani mengaku, sudah menggeluti usaha kecambah sejak akhir tahun 90-an dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun. “Dengan teknik budidaya kecambah tidak banyak berubah. Hanya cara pembersihan, penyiraman dan pengemasan ketika dijual,” ungkap Sutami.
Saat di datangi kepala Desa Talok Samudi , Selasa (21/09/2021) Sutani Mengatakan bahwa dalam produksi sehari-hari ia di bantu warga sekitar bisa memproduksi rata-rata 100 kilogram sutami bisa mendapatkan Pendapatan per hari bersih Rp 200.000.
Sementara itu Kepala Desa Talok H.Samudi Berharap agar usaha warganya ini tetap bisa eksis Terus di masa Pandemi Covid-19 saat ini sehingga nantinya bisa menumbuhkan perekonomian yang Sangat signifikan bagi petani maupun masyarakat yang ikut bekerja khususnya kaum ibu-ibu
“Kami pemdes talok akan terus melakukan pendampingan agar mereka tetap eksis dan akan kita bina serta berusaha membuatkan mereka wadah agar kebersamaannya selalu terjaga Pungkas Kades,” pungkasnya.
#PetaniKecambah
#Petani
#Bojonegoro
#Kecambah






