BOJONEGORO – Delapan puluh satu tahun setelah Resolusi Jihad 1945, Hari Santri 22 Oktober 2026 kembali datang. Di Sukosewu, perayaannya terasa paling dekat lewat sosok yang tidak pernah mencari sorotan, Romo Kyai Isma’il, pengasuh di lingkungan Yayasan Ponpes Al-Abror, alumnus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.
Orang-orang di sekitarnya mengenang sang kyai lewat hal-hal yang sunyi. Seperti cara berpakaian, tutur kata, dan cara hidup yang tidak pernah berlebihan. Namun kesan itu berubah ketika sang kyai mulai mengajar.
“Kita baru sadar betapa dalam dan luas ilmunya.” kata Adib Masyhuri, Kepala Madrasah Ibtida’iyah Fathul Ulum Sukosewu.
Dari Kyai Isma’il, para guru belajar bukan hanya tentang kesederhanaan, tetapi cara menjadi pendidik yang tawadhu’ (rendah hati).
“Ilmu sebesar itu tidak melahirkan keangkuhan. Beliau tidak pernah merasa paling tahu,” ujar Adib.
Sikap itu diuji oleh waktu. Mohammad Mahali, Kepala Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Syafi’iyah Sukosewu, mengatakan tidak sedikit orang yang mencibir sang kyai. Beliau tidak membalas dengan amarah. “Beliau memilih diam, terus mengajar, terus berkhidmat untuk santri dan masyarakat,” tuturnya.
Kenangan dari Tebuireng
Kesungguhan itu, kata Kyai Isma’il sendiri, ditempa sejak muda. Ia mengenang masa nyantri di Tebuireng, bangun sebelum subuh, mengaji sorogan sampai mata perih, dan makan seadanya.
“Waktu itu kami tidak merasa sedang menyiapkan sesuatu yang besar. Kami hanya belajar taat pada guru dan sungguh-sungguh pada ilmu. Baru puluhan tahun kemudian saya paham bahwa kesungguhan kecil itulah yang menjadi bekal hidup,” tuturnya.
Perjuangan Zaman Ini
Bagi Kyai Isma’il, Resolusi Jihad mengajarkan bahwa kyai dan santri tidak memisahkan iman dari cinta tanah air.
“Hubbul wathan minal iman sudah lama kita hafal. Pertanyaannya sekarang, sudahkah kita hidupkan?” ujarnya.
Perjuangan hari ini, menurutnya, tak lagi dengan bambu runcing. Musuhnya adalah kebodohan, kemiskinan, hoaks yang memecah belah, dan kebiasaan menghakimi lewat layar gawai. Santri masa kini dituntut kuat kitabnya sekaligus melek zamannya.
“Silakan jadi dokter, insinyur, wartawan, petani maju, atau pejabat yang jujur. Syaratnya satu: akhlaknya jangan ditinggal,” tegas Kyai Isma’il.
Ia menitipkan tiga pesan kepada para santri:
– Jaga adab sebelum ilmu. “Ilmu yang tinggi tanpa adab hanya melahirkan kesombongan.”
– Jaga persatuan. “Perbedaan pendapat itu rahmat, tetapi permusuhan itu musibah.”
– Jaga desa dan umat. “Jangan semua pergi ke kota lalu lupa kampung. Desa seperti Sukosewu ini juga butuh santri yang mau mengabdi.”
Kepada orang tua dan masyarakat, ia juga menitipkan madrasah-madrasah. “Dukung para guru yang mengabdi dengan ikhlas, kadang tanpa bayaran yang layak. Doa dan perhatian kalian adalah bahan bakar mereka.”
Menjawab dalam Diam
Dalam tradisi pesantren, diam bukan tanda kalah. Ia sering menjadi bentuk adab tertinggi, tidak sibuk membela diri, dan menjawab dengan kerja. Madrasah di bawah naungan Yayasan Ponpes Al-Abror terus berjalan, santri terus mengaji, dan cibiran perlahan kehilangan gaungnya.
“Mari kita jaga api perjuangan ini, bukan dengan teriakan, tetapi dengan ilmu, akhlak, dan pengabdian,” pesan Kyai Isma’il.







