Bojonegoro – Upaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Bojonegoro mendapat perhatian pusat. Tim dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia (KLH RI) turun langsung meninjau aktivitas Kelompok Olah Sampah Mpok Damira, Rabu (1/4/26), sebagai bagian dari penilaian menuju Adipura 2026.
Didampingi Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bojonegoro, rombongan meninjau praktik pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga yang dijalankan kelompok Mpok Damira (Dalem Mandiri Sejahtera). Model ini dinilai mampu menekan volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) melalui penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Tak hanya itu, tim juga mengunjungi pengelolaan sampah di Pondok Pesantren Al Rosyid, Desa Ngumpakdalem. Program tersebut merupakan binaan ExxonMobil Cepu Limited yang didampingi IDFoS Indonesia, dengan fokus pengelolaan sampah di lingkungan pendidikan.
Kelompok Mpok Damira sendiri telah berdiri sejak 2015 melalui program persampahan berbasis ekonomi alternatif. Selama lebih dari satu dekade, kelompok ini konsisten mengelola sampah rumah tangga, mulai dari pemilahan hingga pengolahan sampah organik.
Berlokasi di Desa Ngumpakdalem, Mpok Damira kini melayani sekitar 350 kepala keluarga. Selain itu, mereka juga menangani sampah dari pondok pesantren, toko, kantor, hingga kampus di wilayah sekitar.
Berdasarkan data terbaru, volume sampah yang dikelola mencapai sekitar 945 kilogram per hari. Rinciannya, 825 kilogram berasal dari rumah tangga, sedangkan 120 kilogram lainnya dari sektor non-rumah tangga seperti toko, pesantren, dan perkantoran.
Perwakilan IDFoS Indonesia Ahmad Muhajirin menyebut capaian tersebut menjadi bukti konkret efektivitas pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

“Inisiatif ini menunjukkan hasil signifikan. Total 945 kilogram sampah dikelola setiap hari. Ini membuktikan keterlibatan masyarakat mampu mengurangi beban TPA secara nyata,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program tersebut. Keterlibatan masyarakat, lembaga sosial, hingga dunia usaha dinilai mampu menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
“Model ini perlu direplikasi lebih luas dengan dukungan kebijakan dan penguatan kapasitas, agar tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memberi nilai ekonomi bagi masyarakat,” imbuhnya.
Selain pengelolaan sampah harian, Mpok Damira juga mengembangkan program bank sampah dengan melibatkan warga Perumahan Puri Indah Asri Ngumpakdalem. Penimbangan dilakukan rutin setiap bulan, dan hasilnya ditabung oleh nasabah untuk dicairkan menjelang Idulfitri.
Kunjungan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia ini memperkuat posisi Mpok Damira sebagai salah satu model pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Bojonegoro. Praktik ini diharapkan menjadi salah satu penopang daerah dalam meraih penghargaan Adipura 2026. (RBU/Red).







