GELAR #9 dan Jagong Lingkungan di Miyono : Kolaborasi Besar Dorong Pemulihan Alam Bojonegoro

judul gambar

Bojonegoro — Aksi Gerakan Lestari Alam Raya (GELAR) ke-9 kembali digelar di kawasan Sendang Butak, Desa Miyono, Kecamatan Sekar, Jumat (28/11/25). Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi berbagai lembaga untuk memperkuat upaya pelestarian lingkungan, terutama di wilayah hulu yang selama ini rawan banjir bandang dan longsor.

Sebanyak 2.300 bibit pohon ditanam bersama sebagai kontribusi para kolaborator Aksi GELAR. Deretan lembaga, komunitas, instansi pemerintah, dan organisasi masyarakat hadir mengambil bagian, di antaranya IDFoS Indonesia, Perhutani, Dinas Kehutanan Jatim, Pemerintah Desa Miyono, Camat Sekar, Elsal Indonesia, Lakpesdam NU, Perum Jasa Tirta I, Lima2B, Pemuda LDII, PMII, Giri Foundation, Ansor, Ademos Indonesia, Forum Zakat, serta unsur desa dan kecamatan.

Bacaan Lainnya
judul gambar

Direktur IDFoS Indonesia, Joko Hadi Purnomo, menegaskan bahwa Aksi GELAR telah berjalan sejak 2020 dan menjadi gerakan kolektif untuk memperkuat ketahanan lingkungan Bojonegoro. Menurutnya, bencana banjir bandang di wilayah Sekar merupakan sinyal ketidakseimbangan alam yang perlu diatasi melalui langkah jangka panjang.

“Tujuan Aksi GELAR adalah mendukung visi-misi Pemkab dalam isu lingkungan. Kami berharap pemerintah memberi ruang dan dukungan agar gerakan ini semakin masif. Selain itu, kami mendorong percepatan pembentukan Forum Daerah Aliran Sungai (FORDAS) sebagai forum pengelolaan DAS yang lebih terkoordinasi,” ujarnya.

Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, yang hadir langsung di lokasi, memberikan apresiasi kepada Desa Miyono sebagai tuan rumah GELAR #9. Ia menegaskan pentingnya menjaga hulu Sungai Gandong dan Sungai Tidu agar risiko banjir dan tanah longsor dapat ditekan.

“Hilangnya tutupan hutan berdampak besar. Tanpa pohon, tanah cepat keropos dan mudah longsor. Menanam pohon tidak hanya bermanfaat bagi Miyono, tetapi membawa berkah bagi desa-desa di bawahnya,” tegas Bupati. Ia juga berkomitmen menyalurkan tambahan bibit untuk mendukung kegiatan penghijauan di wilayah Sekar.

Dalam sesi Jagong Lingkungan, berbagai aspirasi disampaikan peserta. Perwakilan Forum Zakat, Hamim Tohari, mengusulkan perubahan istilah “bencana alam” menjadi “alam sedang memperbarui diri”, serta meminta perhatian terhadap kebijakan lahan yang lebih berpihak pada masyarakat penggarap.

Kepala dusun setempat, juga menyampaikan keluhan terkait listrik yang sering drop pada pagi dan sore hari. Masukan tersebut langsung ditanggapi pemerintah. Bupati memaparkan perbedaan regulasi pengelolaan kawasan hutan Perhutani dan Kementerian Kehutanan, termasuk peluang legalitas pemanfaatan lahan melalui skema tertentu.

Sementara Widodo, Kepala CDK, menyampaikan kondisi kawasan hutan di Bojonegoro serta dukungan pemerintah dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. “Kondisi kawasan hutan di Bojonegoro membutuhkan perhatian serius dan penanganan yang terarah,” ujar Widodo.

Widodo juga menegaskan pentingnya percepatan pembentukan FORDAS sebagai ruang bersama untuk menyinkronkan kebijakan lintas lembaga, “forum tersebut akan menjadi kunci kolaborasi pengelolaan lingkungan yang lebih terukur, terpadu, dan berkelanjutan”, tergasnya.

Kegiatan ditutup dengan serah terima bibit pohon dari Bupati Bojonegoro kepada para kolaborator Aksi GELAR, dilanjutkan sesi foto bersama. Momen ini menandai komitmen kolektif untuk memperkuat ketahanan ekosistem dan menjaga keberlanjutan lingkungan Bojonegoro.
Aksi GELAR #9 membuktikan bahwa kolaborasi lintas lembaga, komunitas, dan masyarakat mampu menjadi kekuatan besar dalam merawat alam demi masa depan Bojonegoro yang lebih tangguh dan berkelanjutan. (RBU/Red).

judul gambar

Pos terkait

judul gambar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *