mediapantura.com, Tuban – Tingkat literasi di dunia pendidikan Indonesia masih dinilai rendah. Mulai dari metode pembelajaran hingga penguasaan guru terhadap materi pembelajarannya. Kondisi ini disadari oleh para pendidikan di Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Untuk itu Pusat Belajar Guru (PBG) Tuban memulainya dengan menyelenggarakan Lokakarya dan Bimbingan Teknis Literasi Digital, pada Kamis (28/7/2022) – Jumat (29/7/2022) di aula PBG Tuban.
Dalam sambutannya Ketua PBG Kabupaten Tuban, Ety Wahyuni, menyampaikan para guru harus bergerak memperbaiki diri. Sebab keterlibatan ekosistem pendidikan sangat diperlukan sejak penyusunan konsep, kebijakan, penyediaan materi pendukung, sampai pada kampanye literasi.
“Gerakan literasi sekolah ini merupakan sebuah gerakan dalam upaya menumbuhkan budi pekerti yang sesuai dengan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 yang bertujuan agar siswa memiliki budaya membaca dan menulis sehingga terciptanya pembelajaran sepanjang hayat,” tutur Ety.
Menurutnya, upaya untuk meningkatkan gerakan literasi digital sudah digadang-gadang oleh pemerintah sejak lama. Berbagai macam pendekatan sudah dilakukan pemerintah salah satunya dengan kebijakan agar terlaksana sesuai harapan dan kebutuhan masyarakat.
“Literasi digital tidak hanya mencangkup kemampuan teknis seseorang dalam menggunakan alat (tools) atau piranti ICT, namun juga mencangkup pengetahuan dan keterampilan seseorang dalam memahami suatu konten sehingga pada akhirnya goals-nya adalah mampu menciptakan pengetahuan baru,” tegas Ety.
Dijelaskan, berdasarkan survei APJII, 2017, terdapat kesenjangan dalam penggunaan internet, penyalahgunaan internet, meluasnya hoax, itu semua adalah faktor rendahnya literasi digital di Indonesia.

“Sangat perlu untuk membangun dan memfasilitasi literasi digital. Terutama untuk meningkatkan kompetensi para pendidik dalam menggunakan media digital,” terangnya.
Dirinya juga menambakan dengan begitu nantinya bisa menemukan, memanfaatkan, mengolah, mengemas, mengevaluasi dan menyebarluaskan informasi secara benar, bijak dan bertanggung jawab kepada peserta didiknya.
Selain itu PBG Tuban sekarang ini sudah membuat aplikasi literasi digital berbasis website. Sebuah portal yang bisa digunakan untuk kegiatan literasi digital para guru dan masyarakat. Melalui aplikasi ini, para guru juga bisa menampilkan karya tulisannya di website ini.
“Dalam bimbingan teknis ini kita ajarkan para guru anggota PBG Tuban sampai bisa. Nanti mereka akan mengajarkannya kepada guru lain, di luar PBG” pungkasnya.
Pemerintah Kabupaten Tuban, melalui Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban, Abdul Rakhmad menyambut baik inisiatif para guru. Dia berterima kasih kepada PBG Tuban yg mampu mewadahi guru-guru. Mulai dari jenjang PAUD hingga SMA/SMK, bahkan guru di wilayah naungan Kemenag Kabupaten Tuban.
“Terima kasih juga kepada penyandang dana, ExxonMobil Cepu Limited, semoga bisa terus bersinergi dengan Pemerintah untuk mensuport PBG, tutur Rakhmad.
Sementara itu PBG Tuban diinisiasi oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) sejak tahun 2014. EMCL dan SKK Migas bekontribusi mulai dari membangun fasilitas infrastruktur, fasilitas belajar, hingga membentuk dan mendampingi organisasi PBG. Sampoerna Foundation sebagai mitra EMCL, mendampingi para guru dari awal hingga PBG betul-betul berjalan mandiri.
Dalam enam tahun terakhir, PBG Tuban telah melaksanakan lebih dari 600 kegiatan peningkatan kapasitas guru. Mulai dari pelatihan hingga lomba. Dan lebih dari 11 ribu guru merasakan manfaat kegiatan PBG.
Berbagai lomba diikuti oleh para guru PBG. Beragam piala dan penghargaan diraih. Seperti lomba Inovasi Pembelajaran Tingkat Nasional, juara Best Practice tingkat nasional, Widya Karya Nugraha dari Provinsi Jawa Timur, dan lain-lain. Beberapa guru bahkan dikirim ke luar negeri seperti Belanda, Malaysia, dan Jerman.
Sebagai penunjang, PBG Tuban memiliki laboratorium, perpustakaan, dan e-server library. Semangat berkumpul dan bertukar pikiran inilah yang membuat dinamika pendidikan di Kabupaten Tuban terus bertumbuh. (Rico/Red)