Mediapantura.com, Jepara – Sabtu (8/01/2022), hari yang membikin suka cita. Hatiku riang tidak terbendung karena seharian bergumul dengan kader-kader penerus jati diri bangsa di Pimpinan Komisariat (PK) IPNU IPPNU SMP NU Model, Sumberejo, Kabupaten Bojonegoro dalam acara stadium general dengan tema “Pendidikan Karakter Jati diri Bangsa Dan Kemandirian Ekonomi Komunitas.”
Hari ini haru bahagiaku paripurna, selain melihat sinar wajah calon pemimpin bangsa yang berpegang pada nilai-nilai aswaja yang menjadi core value SMP NU Model, Sumberjo, Kabupaten Bojonegoro dan antusiasme peserta stadium general tentang karakter jati diri bangsa juga pesan whatsapp yang dikirim teman sekaligus guru saya, yaitu Bang Didin, pengasuh “majelis” MasJenggo, yang bertempat di Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara.
Pesannya masuk saat saya bertugas menyampaikan materi kemandiran ekonomi komunitas yang didadar dari buku “Beyond Social Movement karya saya.” Sayub-sayub saya melihat pesan tersebut ada poster namun terbiarkan begitu saja. Selasai tugas bergegas saya membuka pesannya. Benar sekali lirikan mautku, Bang Didin mengirim poster yang disertai undangan menghadiri pembukaan acara pameran tunggal Dwi Tunggak dengan tema Meluar Batas, hari ini juga, Sabtu, 8 Januari 2020, Pukul 20.00 WIB di Kafe MasJenggo, Jinggotan, Kembang, Jepara.
Seketika perasaan riang, suka cita, dan bahagia terkikis oleh keberadaaanku yang tidak memungkinkan bisa menghadiri karena jarak, selain itu juga masih ada agenda di luar kota yang perlu diselesaikan. Dengan rasa sedih saya membalas pesan itu, “Maaf, Bang, belum bisa menghadiri pembukaan.”
Beberapa jam kemudian, pesan dari bang Didin masuk lagi. Kali ini bukan lagi undangan pembukaan melainkan sebuah dokumen berisi katalog karya Dwi Tunggal sang “aktor” pada pameran tunggal bertema Meluar Batas itu.
Dokumen yang berisi kurang lebih 35 karya yang menurut Iskak Wijaya dalam tulisannya berjudul Menafsir “Meluar Batas” Ia menyebut bahwa modus penyampaian Dwi Tunggak dalam karyanya, tampaknya berusaha menghidupkan berbagai bentuk dan model patung bergaya totem-purba. Iskak menambahkan, sekilas dapat dibaca sebagai teks yang berkisah tentang peradaban primitif. Argumen demikian diperkuat ujaran Tunggak tentang karyanya, “Gaya dari patung ini adalah “primitif” –Tulis Iskak Wijaya.
Dalam tulisannya Iskak Wijaya menafsir “Meluar Batas” dengan sangat apik, lugas, dan mendalam. Ia menyebut bahwa sesungguhnya makna “primitif” bukanlah seperti yang dimaknai selama ini: Hina, bernilai rendah, atau “belum beradab”, “tidak mengenal etika”, serta “liar.” Dalam pandangannya Iskak Wijaya memaknai “primitif” sungguh mulia dengan menyebut sebagai nilai peradaban awal dan utama yang dibangun secara sadar oleh manusia.
Membaca tulisan Iskak Wijaya dan mencermati satu per satu karya Dwi Tunggak, perasaan riang, suka cita, dan bahagia saya tidak hanya terkikis melainkan hancur berkeping-keping disentil olehnya.
Dari keseluruhan karyanya, Tunggak memberi gambaran potret manusia yang sejatinya manusia dan potret demikian berkebalikan dengan kondisi saya. Dalam patung-patungnya Tunggak menggambarkan ada hubungan tidak terpisahkan antara Tuhan, manusia, dan alam.
Mulai dari posisi manusia sebagai hamba, manusia sebagai duta keTuhanan, dan manusia sebagai keluarga semesta atau bisa dikatakan ada keterjalinan hubungan antara Tuhan sebagai pencipta kehidupan, alam semesta sebagai wahana kehidupan, serta manusia sebagai pengelola kehidupan. Lalu dalam mengarungi kehidupan, apabila ketemu kondisi, misal, sulit, ketemu jalan buntu, dalam karyanya, Tunggak seolah menebar nasihatnya, “Janganlah putus asa.”
Jika diambil sari patinya, karya Tunggak memberi gambaran semestinya hidup ini haruslah berpegang pada nilai-nilai kasih dan sayang, nilai-nilai keselarasan semesta, dan nilai-nilai keberdayaan dan memberdayakan.
Selain itu, Tunggak mengajak kita mengingat sangkan paraning dumadi. Implementasinya dalam kehidupan tentu dalam bertindak, melihat, dan berpikir mengikuti atau relevan serta berpegang pada cara Tuhan berpikir, bertindak, dan melihat.
Sentilan Tunggal dalam karyanya, sangat relevan dengan kondisi kekinian yang, banyak orang berkata bahwa saat ini, sensasi mendahului essensi; popularitas mendahului kualitas, cita keluhuran dan kemuliaan dipandang sebagai legenda kuno yang membosankan, dan; nilai-nilai kehidupan yang substansi ditumbangkan untuk tegakkan gengsi.
Kondisi ini, cilakanya sudah merasuk sendi-sendi sosial-budaya, ekononi, termasuk dalam perebutan kekuasaan. Banyak terjadi rekayasa dalam berebut kuasa; Banyak terjadi sikut sana-sini atas nama kompetisi, dan; Banyak calo pembangunan atas nama percepatan.
Akhir kata, karya Dwi Tunggak dalam pameran tunggal yang bertema Meluar Batas merupakan “kitab” hidup yang sejatinya hidup : Mengenal diri – mengelola diri – mengembangkan diri berdasarkan nilai-nilai keTuhanan. Tunggak seolah mengajak kita kembali membaca diri yang lama terbiarkan tertimbun debu. Tunggak seolah mengajak kita menata kembali orientasi, motivasi, dan komitmen hidup yang semestinya, yakni orientasi hidup yang bersifat universal–holistik, yakni tidak atas nama eksistensi kelompok belaka apalagi sekadar memikirkan diri sendiri.
Motivasi hidup yang semata-mata menjalankan tugas dari-Nya, yakni insan yang memiliki kesadaran sebagai “duta keTuhanan”. Komitmen hidup yang diniatkan untuk menebar kerahmatan, yaitu perwujudan perpaduan Nilai cinta dan kasih sayang, nilai keberdayaan yang memberdayakan, dan nilai keselarasan semesta.(Den/Red).*
