Tuban, mediapantura.com – Masa Pandemi Covid-19 belum usai terbukti dengan pemberlakuan PPKM, dan akhirnya membuat pola pendidikan di Indonesia ini khususnya dikota tuban berubah derastis. Semula proses belajar mengajar dilakukan dengan tatap muka. Tetapi kini, proses belajar mengajar dilakukan secara jarak jauh dengan memanfaatkan jaringan internet, serta teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
Tahun Ajaran baru 2021/2022 ini PPKM Jawa dan Bali, menjadikan pendidikan lebih ekstra untuk seorang pendidik kepada pesertadidik, bukan hanya kuantitas pesertadidik yang dibutuhkan melainkan pendidikpun juga dituntut membuat kurikulum sakti, guna menjamin mutu berjalannya pola pendidikan yang ada di Indonesia khususnya dikota tuban kita tercinta ini.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana memilih cara yang tepat supaya pembelajaran jarak jauh dapat dilaksanakan secara optimal. Ada hal yang meringankan beban guru yang tertuang dalam Surat Edaran Mendikbud No 4 / 2020. Dalam surat edaran tersebut, guru diberi kelonggaran agar tidak terbebani untuk menuntaskan seluruh capaian kurikulum. Guru diberi ruang yang sangat luas untuk bereksplorasi memaksimalkan bentuk pembelajaran yang dipilihnya.
Guru dapat dengan bebas dan leluasa memilih pembelajaran sesuai dengan kondisi yang ada. Meski demikian, jangan sampai kebebasan ini mengorbankan nasib masa depan siswa. Untuk itu diperlukan langkah – langkah antisipatif terbagi menjadi 3 waktu : jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.
Tidak ada metode pembelajaran yang terbaik dan tidak ada pula metode yang terburuk, begitulah kiranya yang mendasari guru untuk dapat benar – benar menyesuaikan pembelajaran dalam masa pandemi ini. Pedoman utamanya adalah bagaimana siswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang mendekati sama dengan kondisi normal. Guru juga diberi kelonggaran dalam memberi umpan balik terhadap tugas yang diberikan kepada siswa. Kebijakan Kemendikbud juga menekankan bahwa pemberian umpan balik oleh guru lebih bersifat kualitatif dan berguna tanpa diharuskan memberi skor/kuantitatif. Sehingga siswa tidak terbebani dengan umpan balik yang diberikan guru. Dalam jangka pendek ini guru lebih banyak berperan secara langsung mengadaptasi proses pembelajaran dalam masa pandemi covid19.
Setelah pandemi covid19 ini usai nantinya, diperlukan langkah perbaikan/remidial teaching untuk menyempurnakan capaian kurikulum. Alternatifnya dengan memprogramkan matrikulasi mengulang materi pembelajaran untuk percepatan mengejar ketertinggalan. Hal ini dapat dicapai dengan dukungan sekolah serta persetujuan dinas pendidikan. Program ini belum dapat ditentukan kapan dimulai karena pandemi covid19 belum dapat diprediksi kapan akan berakhir. Namun demikian sekolah dan dinas pendidikan dapat mulai memikirkan untuk mempersiapkan jangka menengah ini.
Dengan atau tanpa persiapan, bencana dapat terjadi sewaktu – waktu. Selama ini langkah mitigasi bencana lebih ditekankan untuk mengantisipasi bencana alam. Bencana wabah seperti covid19 memang jarang tersentuh. Instansi terkait perlu memikirkan upaya mitigasi manakala proses pembelajaran tidak dapat dilaksanakan secara langsung di sekolah dalam rentang waktu yang cukup lama. Mungkin saja tidak hanya mitigasi korban jiwa, namun juga bagaimana hak siswa untuk memperoleh pembelajaran tetap dapat diberikan.
Dalam jangka panjang, Kemendikbud dan kementerian/instansi terkait perlu membuat SOP dan langkah antisipatif sehingga sekolah tidak gagap ketika dihadapkan pada situasi tidak menentu seperti pandemi covid19 ini.
Untuk itu dari segi manfaat, dilakukannya pembelajaran jarak jauh (PJJ) telah menjejakkan proses pendidikan di tanah air ke arah digitalisasi. Namun di sisi lain, hal itu juga menimbulkan hambatan. Bagi daerah yang mengalami kendala akses internet dan ketiadaan gawai karena rendahnya tingkat ekonomi masyarakat PJJ cukup sulit untuk dilakukan. Problematika ini terjadi dikota Tuban juga khususnya dikecamatan dan desa desa plosok yang belum terjamah internet secara keseluruhan. Selain itu, proses belajar mengajar yang membutuhkan praktek secara langsung juga mengalami kendala, para pengawas dunia pendidikan pun juga memberikan konsultan berupa penyuluhan kepada sekolah sekolah yang ada dikota tuban agar pendidikan terus berlanjut dan terjamin dalam mutu pendidikan yang dilakukan oleh sekolah sekolah dikabupaten tuban.
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Moderasi Beragama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Agus Sartono menjelaskan dalam media nasional, untuk mengatasi hal itu dibutuhkan inovasi khususnya oleh pihak guru dan sekolah serta civitas akademika yang ada dalam memanfaatkan keadaan yang serba terbatas ini.
Hal itu dijelaskan Deputi Agus saat memberikan arahan dalam ‘Sosialisasi Terobosan Pemanfaatan TIK Sederhana Untuk Mengatasi Hambatan PJJ’, secara daring via aplikasi zoom dan dihadiri sebanyak ratusan perwakilan sekolah dari berbagai daerah yang ada.
Inisiatif dari pihak sekolah sangat diperlukan. Dengan menggunakan tiga pendekatan yang diamanatkan oleh Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan, konsep tiga “N”, yakni Niteni, Niroke, dan Nambahi yang berarti mengamati, meniru, dan menambahkan atau bisa juga dengan sebutan Amati Tiru dan Modifikasi (ATM) Pendekatan ini bisa dilakukan dimanapun.
Bahwa tujuan pendidikan adalah untuk membuat cerdas generasi penerus bangsa, serta membentuk karakter bangsa yang berbudaya. Sehingga, tantangan sebesar apapun harus bisa diatasi dan menjadi tanggung jawab bersama, yakni semua orang, harus menjadi guru yang bisa mendidik anak-anak penerus bangsa.
“Siapa yang bertanggung jawab untuk hal itu? jawabannya adalah guru, kyai, orang tua, ustadz, dosen dan orang yang mempunyai kompetensi dibidang pendidikan. Karena itu mari setiap kita menjadi guru. Jadi tidak hanya dosen atau guru di sekolah, kita semua harus menjadi guru.
Sosiolog Universitas Indonesia Imam Prasodjo mengamini penjelasan dari Deputi Agus Sartono di media zoom yang dilaksanakan. Dia mengatakan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab guru, tetapi juga tanggung jawab semua unsur masyarakat.
Masa pandemi ini memiliki hikmah untuk membuat gerakan, agar semua orang bisa menjadi guru bagi anaknya, bagi dirinya sendiri, serta bagi lingkungannya juga untuk anak-anak agar proses pendidikan tidak terhenti meskipun terdapat beragam kendala dimasa PPKM Jawa dan Bali yang masih menghawatirkan karena dinilai Pandemi Covid 19 belum turun dan masih naik secara drastis dalam memakan korban yang ada khususnya dikota kita tercinta ini kota tuban.
Untuk melakukan hal itu perlu adanya mapping memilih orang terbaik yang bisa dilibatkan untuk mengajar dan membimbing anak-anak, mulai dari lingkup keluarga seperti orang tua, kakak, saudara, serta pihak luar seperti melibatkan mahasiswa untuk melakukan praktik KKN dengan mengajar di daerah yang terkendala akses Internet dan kegaptekan pendiidik tersebut.
Oleh karena itu mapping menjadi sangat penting. kalau orang terididik atau istilahnya champion bisa digerakan maka memunculkan sekampung bisa menyelamatkan anak kita. Katakan saja guru tak memiliki akes internet tapi dia punya mitra di wilayah anak didik mereka bahkan kakak dan orang tuanya yang lebih bertanggung jawab bisa menjadi pendidik bagi semua orang yang membutuhkan pendidikan dilingkungannya khususnya di kekuarga tersebut.
Untuk hambatan teknologi, mengembangkan inovasi pemanfaatan TIK sederhana, Pemanfaatan TIK sederhana ini telah diterapkan di Sekolah sekolah yang tentunya bisa berinovasi dan melakukan pembaharuan dalam dunia pembelajaran dimasa covid 19 ini, dengan kurikulum yang sudah dianjurkan dan disosialisasikan oleh pihak yang bersangkutan dari dinas pendiidikan kota tuban yakni para pengawas pendidikan.
Inovasi yang dilakukan adalah dengan memanfaatkan perangkat sederhana untuk media pembelajaran oleh guru seperti memanfaatkan TV. Dengan dikoneksikan ke Handphone atau laptop agar anak-anak yang memiliki kendala ketidakmampuan memiliki gawai bisa melakukan belajar secara berkelompok dan dengan protokol kesehatan di bawah bimbingan guru bijak yang di utus oleh pihak lembaga sekolahan untuk mengawal program sakti kurikulum PJJ dimasa pandemi covid 19 ini, kurikulum terbatas namun esensi dan efektifitas nya juga bisa dirasakan oleh pihak peserta didik yang berusaha untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu dimasa masa yang menyulitkan ini khususnya dikota tuban.
Selain itu, sosialisasi kepada guru agar bisa menyiapkan konten belajar yang interaktif, juga akun belajar dari kementerian pendidikan, agar peserta didik tidak merasa bosan dan lebih mudah memahami dalam proses belajar. Pelibatan keluarga, sampai mahasiswa juga diperlukan untuk membimbing peserta didik. Inovasi ini bisa menjadi alternatif dalam proses PJJ dan bisa diterapkan oleh pihak sekolah khususnya dikota tuban dan itu sudah diterapkan.
Dalam masa pandemi covid 19 seperti ini, masa PPKM Jawa dan Bali dimaklumi bahwa proses pembelajaran menemui banyak kendala dan kemungkinan tidak memenuhi capaian kurikulum. Meski demikian, pemangku kebijakan pendidikan tetap harus memikirkan masa depan siswa. Upaya yang dilakukan tidak hanya berhenti pada masa pandemi covid19. Setelah pandemi covid19 ini usai nantinya, perlu disiapkan langkah – langkah antisipasi untuk mengejar capaian kurikulum yang mungkin saja tidak tercapai. Sehingga masa depan siswa tetap dapat berlanjut sesuai dengan tujuan pendidikan di indonesia ini khususnya dikota tuban.
*Penulis Adalah Kepala Sekolah SMP Plus Nu 02 Al Khikmah Sokosari Soko Tuban
